bornforthesea's Blog

Juni 7, 2010

Sejarah Budidaya Laut

Filed under: Uncategorized — bornforthesea @ 9:10 am

1. SEJARAH BUDIDAYA LAUT

Sejak zaman dahulu, sekitar 2000 tahun sebelum masehi, usaha budidaya laut telah dilakukan oleh bangsa Jepang, yaitu ketika mulai membudidayakan tiram laut (oyster). Setelah itu pengembangan budidaya laut dilanjutkan oleh bangsa cina, yaitu sekitar 475 sebelum masehi dan budidaya tiram laut di Junani sejak 100 tahun sebelum Masehi (Milne, 1972).
Sedangkan di Indonesia, budidaya laut mulai diikembangkan dengan ditandainya keberhasilan perusahaan Jepang dalam membudidayakan tiram mutiara pada tahun 1928 di Buton – Sulawesi Tenggara.

2. MENGAPA DILAKUKAN BUDIDAYA LAUT????

Saat ini Indonesia berada di peringkat ke enam sebagai negara penghasil perikanan terbesar di dunia. Namun demikian sekitar 77 % hasil tersebut bersal dari perikanan tangkap. Hal ini dapat dimengerti karena perburuan ikan di laut (perairan umum) lebih dulu dilakukan masyarakat dibanding budidaya ikan. Penangkapan ikan di laut yang pada hakekatnya merupakan panen organisme dari perairan umum pada awalnya dilakukan dengan alat-alat yang sederhana dan kemudian menggunakan alat yang sangat modern.Karena tingginya produksi perikanan tangkap di Indonesia, membuat banyak komoditi perikanan terancam jumlahnya karena over fishing. Saat ini budidaya laut di Indonesia mulai berkembang karena kesadaran masyarakat pada lingkungan mulai meningkat.
Ada beberapa keuntungan dari budidaya laut di bandingkan perikanan tangkap antara lain :

  • Membantu peningkatan pendapatan nelayan
  • Dapat menciptakan usaha dan lapangan kerja yang baru
  • Menghasilkan komoditi ekspor dalam rangka meningkatkan devisa negara.
  • Dapat menghasilkan bahan bagi industri : makanan, tekstil, obat-obatan dan kosmetika.
  • Menghasilkan bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi kebutuhan gizi keluarga

Selain itu ada beberapa keuntungan lain dari budidaya laut yaitu :

  • Dapat meningkatkan produksi organisme laut
  • Dapat menjaga kelestarian organisme laut

Keuntungan – keuntungan dari budidaya laut dapat diperoleh bila kita mengikuti proses dan jalan yang benar. Kebiasaan atau sifat dasar masyarakat Indonesia yang ingin serba instan membuat perkembangan usaha budidaya laut sedikit terhambat.

3. PENGERTIAN BUDIDAYA LAUT….!!!
Budidaya laut adalah upaya manusia melalui masukan tenaga kerja dan energi, untuk meningkatkan produksi organisme laut ekonomis penting dengan memanipulasi laju pertumbuhan, mortalitas dan reproduksi. Kegiatan budidaya telah dilakukan manusia sejak dulu yaitu pemeliharaan dalam media air dengan pemberian makanan untuk organisme yang dipelihara (Anonim, 2006).
Prinsip – Prinsip Budidaya Laut
Dalam budidaya laut berusaha untuk memaksimalkan hasil panen dari lingkungan perairan. Stok biomas dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu laju recruitment, laju pertumbuhan, laju kematian alami dan laju kematian akibat penangkapan. Perikanan tangkap berusaha untuk memaksimalkan hasil melaui kenaikan laju kematian, jika terlalu banyak ikan yang tertangkap maka recruitment dan pertumbuhan tidak mampu menggantiakan stok yang rusak. Berbeda dengan budidaya, meningkatnya hasil melalui manipulasi seluruh faktor populasi yaitu pertumbuhan, reproduksi dan recruitment serta mortalitas alami.

4. JENIS – JENIS ORGANISME BUDIDAYA….
lompok penting makhluk hidup yang biasa dibudidayakan dilaut adalah Molusca, Crustacea dan ikan (MILNE, 1972) serta rumput laut. Dalam kehidupan alamiah di perairan laut Sumatera Utara terdapat banyak jenis hewan dan rumput laut dari kelompok-kelompok di atas. Di antara jenis hewan itu telah sejak lama dipungut oleh nelayan secara tradisional. Rumput laut pernah diolah oleh satu perusahaan, tapi telah menghentikan usahanya.

Beberapa janis hewan laut menurut kelompok sebagai berikut :

    1. Kerang-kerangan (Anadara spp)
    2. Kerang hijau (Mytilus spp)
    3. Tiram (Crassostrea spp)
    4. Simping (Amusium spp)
    5. Remis (Meretrix spp)
    6. Penyu (Chelonia spp)
  1. Kelompok Crustacea
    1. Udang dogol (Metapenaeus spp)
    2. Udang barong (Panulirus spp)
    3. Kepiting bakau (Scylla serrata)
  2. Kelompok ikan (Finfish)
    1. Belanak (Mugil spp)
    2. Kakap putih (Lates calcarifer)
    3. Bandeng (Chanos-chanos)
    4. Ikan-ikan hias (ornamental fishes)

Proses Kegiatan Budidaya Teripang
Pemilihan lokasi merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan budi daya. Selain itu, beberapa pertimbangan bioekologi, sosial ekonomi, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku juga harus dipenuhi agar kemungkinan timbulnya beberapa hambatan/masalah di kemudian hari bisa diantisipasi sedini mungkin.
Pada umumnya budi daya teripang dilakukan di perairan pantai pada kawasan pasang surut. Ini disebabkan karena potensi lahan pantai masih cukup luas. Namun demikian, teripang mempunyai kemungkinan pula untuk dibudidayakan di kolam air laut (tambak) dengan syarat tertentu.

Secara umum, perairan pantai yang memiliki benih teripang alami cocok untuk tempat budi daya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan suatu lokasi yang tidak memiliki benih alami juga cocok untuk tempat budi daya.

Jenis teripang yang sudah dan banyak dibudidayakan di negara kita ialah teripang putih (Holothuria scabra). Hal ini dikarenakan harga teripang ini mahal, pertumbuhannya cepat, lebih toleran terhadap perubahan lingkungan, dan dapat dibudidayakan dengan padat penebaran tinggi. Oleh karena itu, pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan lokasi ini diutamakan untuk jenis teripang putih walaupun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan pada jenis-jenis teripang lain. Hal ini mengingat setiap jenis teripang mempunyai sifat biologi spesifik yang berbeda, tetapi secara umum habitatnya relatif sama.
Pertimbangan dalam pemilihan lokasi tersebut adalah sebagai berikut :

a. Keterlindugan

Lokasi budi daya harus terlindung dari pengaruh ams, gelombang, maupun angin yang besar. Arus, gelombang, atau angin yang besar akan memsak sarana budi daya serta menyulitkan dalam pengelolaan budi daya. Lokasi yang terlindung dari pengaruh seperti ini biasa diketemukan di perairan teluk, laguna, atau perairan terbuka yang terlindung oleh gugusan pulau atau karang penghalang.

b. Kondisi dasar perairan

Dasar perairan hendaknya berpasir atau pasir berlumpur bercampur dengan pecahan-pecahan karang dan banyak terdapat tanaman air semacam rumpt laut (sea weed) dan alang-alang laut (sea gress)

c. Salinitas air laut

Dengan kemampuan yang terbatas dalam pengaturan osmotik, maka teripang tidak dapat bertahan hidup terhadap perubahan salinitas yang terjadi secara drastis. Salinitas optimum adalah 30-33 ppt.

d. Kedalaman air

Secara alami teripang hidup pada kedalaman perairan yang berbeda-beda menurut besarnya. Teripang muda tersebar didaerah pasang surut, setelah ukurannya bertambah besar maka berpindah ke dasar perairan yang lebih dalam. Lokasi yang cocok untuk budidaya teripang sebaiknya pada kisaran kedalaman air antara 0,5-1,5 m pada air surut terendah.

e. Ketersediaan benih

Lokasi pengembangan budidaya teripang sebaiknya tidak jauh dari tempat pengumpulan benih secara alamiah. Terdapat benih alamiah pada periaran tersebut adalah suatu indikator yang baik untuk lokasi budidaya teripang.

f. Kondisi Lingkungan

Kondisi perairan sebaiknya harus memenuhi standar kualitas air laut yang baik bagi kehidupan ( laju pertumbuhan dan sintasan). Teripang yang dibudidayakan, seperti : suhu air 20-250 C, pH air 6,5-8,5 , kadar oksigen terlarut 4-8 ppm, dan kecerahan 0,5-1,5 cm (cahaya matahari sampai kedasar), serta lokasi budidaya harus bebas dari pencemaran seperti limbah organik, logam berat, minyak dan bahan-bahan beracun lainnya.

g. Perairan Jernih.

Perairan harus jemih, bebas pencemaran dengan nilai kecerahan 50 – 150 cm yang diukur dengan piring seicchi.

h. Kemudahan

Lokasi budi daya harus mudah dijangkau. Selain itu, sarana produksi harus mudah diperoleh dan pemasaran harus dapat dilakukan dengan mudah di tempat itu. Pertimbangan lainnya, lokasi budi daya sebaiknya bukan merupakan. pusat kegiatan nelayan, bukan daerah penangkapan ikan, bukan wilayah pelayaran, dan bukan daerah pariwisata sehingga benturan kepentingan dapat dihindarkan.
2. Perizinan Budidaya

Dalam mendirikan tempat budidaya tidak bisa sembarangan mendirikan. Perlu ada perizinan kepada pemerintah daerah setempat yaitu pemda Kepulauan Karimun Jawa untuk mendirikan tempat budidaya. Dasar hukum dalam pendirian lokasi budidaya adalahKeputusan Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial, Nomor 70/PS.5/KPTS/IX/2008 tanggal 26 September 2008 tentang penetapan kelompok usaha bersama di provionsi kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa penerima program pemberdayaan fakir miskin melalui mekanisme bantuan langsung pemberdayaan sosial (BLPS).
3. Pemilihan Benih

Setelah izin pendirian lokasi budidaya telah didapatkan oleh pemerintah daerah Kepulauan Karimun Jawa, maka langkah selanjutnya sebelum melakukan kegiatan budidaya adalah pemilihan benih unggul yang akan dijadikan induk dan akan dibesarkan. Adapun untuk memilih benih unggul teripang dapat dilihat dari berbagai aspek, antara lain :

a. Tubuh tidak cacat.

b. Ukuran besar dengan berat 400 gr dan panjang tubuh minimal 20 cm.

c. Berkulit tebal.

Umumnya berat tubuh teripang berpengaruh langsung atau berkolerasi terhadap berat gonad dan indeks kematangan gonad serta fekunditas. Pengangkutan induk dari tempat pengumpulan dapat dilakukan dengan wadah, seperti ember plastik yang berisi air laut atau langsung ditempatkan pada palka perahu. Untuk pengumpulan/pengankutan calon induk pada siang hari sebaliknya wadah penampungan atau palka ditutup teripang atau ilalang laut untuk menghindarkan calon induk dari sinar matahari secara langsung. Pengangkutan induk dari tempat pengumpulan dapat dilakukan dengan wadah, seperti ember plastik yang berisi air laut atau langsung ditempatkan pada palka perahu.

Budidaya Teripang

Metode yang digunakan untuk membudidayakan teripang (ketimun laut) yaitu dengan menggunakan metode penculture. Metode penculture adalah suatu usaha memelihara jenis hewan laut yang bersifat melata dengan cara memagari suatu areal perairan pantai seluas kemampuan atau seluas yang diinginkan sehingga seolah-olah terisolasi dari wilayah pantai lainnya.

Bahan yang digunakan ialah jaring (super-net) dengan mata jaring sebesar 0,5 – 1 inci atau dapat juga dengan bahan bambu (kisi-kisi). Dengan metode ini maka lokasi/areal yang dipagari tersebut akan terhindar dari hewan-hewan pemangsa (predator) dan sebaliknya hewan laut yang dipelihara tidak dapat keluar dari areal yang telah dipagari tersebut.

Pemasangan pagar untuk memelihara teripang, baik pagar bambu (kisi-kisi) ataupun jaring super net cukup setinggi 50 cm sampai 100 cm dari dasar perairan. Luas lokasi yang ideal penculture ini antara 500 – 1.000 m2.

a. Sumber benih teripang
Benih teripang dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu :

  • melakukan pemungutan dari alam dan
  • dengan memelihara induk-induk teripang pada petak-petak di dalam area penculture.

Teripang yang dijadikan induk ialah yang sudah dewasa atau diperkirakan sudah dapat melakukan reproduksi dengan ukuran berkisar antara 20 – 25 cm. Sedangkan benih teripang alam yang baik untuk dibudidayakan dengan metoda penculture adalah yang memiliki berat antara 30 sampai 50 gram per ekor atau kira-kira memiliki panjang badan 5 cm sampai 7 cm. Pada ukuran tersebut benih teripang diperkirakan sudah lebih tahan melakukan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.

b. Pengangkutan benih/induk
Di dalam hal budidaya teripang cara pengangkutan benih/ induk merupakan hal yang penting. Lebih-lebih apabila sumber benih/induk teripang yang akan dibudidayakan letaknya relatif jauh, sehingga diperlukan teknik yang baik didalam pengangkutan teripang tersebut agar tetap hidup sampai di lokasi budidaya. Metode pengangkutan teripang agar dapat memberikan tingkat kehidupan yang tinggi adalah sebagai berikut:

  • Teripang dimasukan pada kantong plastik ukuran 2 liter dengan media air dan pasir. Sebelumnya kantong plastik digelembungkan untuk melihat kantong tersebut bocor atau tidak.
  • Kepadatan untuk masing-masing jenis adalah : untuk teripang putih dan teripang grido dengan berat antara 100-200 g adalah 3 ekor untuk setiap kantong, sedangkan untuk teripang jenis olok-olok 4 ekor untuk setiap kantong plastik.

c. Makanan Teripang
Faktor makanan dalam pemeliharaan (budidaya teripang tidak menjadi masalah sebagaimana halnya hewan-hewan laut lainnya. Teripang dapat memperoleh makanannya dari alam, berupaplankton dan sisa-sisaendapan karang yang beracadi dasar laut. Namun demikian untuk lebih mempercepat pertumbuhan teripang dapat diberikan makanan tambahan berupa campuran dedak dan pupuk kandang (kotoran ayam).

Cara pemberian makanan tambahan tersebut adalah sebagai berikut :

  • Dedak halus dan kotoran ayam dicampur rata
  • Campuran dimasukkan kedalam kantong plastik
  • Kemudian direndam deism air laut sampai campuran menjadi lengket, lalu dibentuk menjadi gumpalan.
  • Gumpalan tersebut kemudian disebar merata kedalam kurungan.

Cara lain agar pupuk tidak hanyut dapat dilakukan sebagai berikut:

  • Pupuk dimasukkan ke dalam karung plastik dan ditenggelamkan ditempat pemeliharaan.
  • Setelah kira-kira 10 hari akan muncul micro organisms sebagai makanan teripang.

Pemberian makanan tambahan sebaiknya dilakukan pada sore hari.. Hal ini disesuaikan dengan sifat hidup atau kebiasaan hidup dari teripang. Pada waktu siang hari teripang tidak begitu aktif bila dibandingkan dengan pada malam hari, karena pada waktu siang hari ia akan membenamkan dirinya dibawah dasar pasir/karang pasir untuk beristirahat dan untuk menghindari/melindungi dirinya dari pemangsa/predator, sedangkan pada waktu malam hari ia akan lebih aktif mencari makanan, baik berupa plankton maupun sisa-sisa endapan karang yang berada didasar perairan tempat hidupnya.

d. Padat penebaran
Teripang dapat hidup bergerombol dilempat yang terbatas. Oleh karena itu dalam usaha budidayanya dapat diperlakukan dengan padat penebaran yang tinggi. Untuk ukuran benih teripang sebesar 20 – 30 gram per ekor, padat penebaran berkisar antara 15 – 20 ekor per meter persegi, sedangkan untuk benih teripang sebesar 40 – 50 gram per ekor, padat penebarannya berkisar antara 10 – 15 ekor per meter persegi.

Waktu yang tepat untuk memulai usaha budidaya teripang disuatu lokasi tertentu ialah 2-3 bulan setelah waktu pemijahan teripang di alam (apabila menggunakan benih dari alam). Benih alam yang berumur 2 sampai 3 bulan diperkirakan sudah mencapai berat 20 – 50 gram per ekor.

Pasca Budidaya

Pemungutan hasil atau panen dapat dilakukan setelah teripang mencapai ukuran pasar (marketing size), yaitu berkisar antara 4-6 ekor/kg (berat basah). Untuk mendapatkan ukuran ini biasanya teripang dipelihara selama 6-7 bulan dengan sintasan yang dicapai kurang lebih 80% dari total penebaran awal. Panen dilakukan pada pagi hari sewaktu air sedang surut dan sebelum teripang membenamkan diri. Panen dapat dilakukan secara:

1. Panen selektif ialah dengan memilih teripang yang telah mencapai ukuran pasar degan berat rata-rata sekitar 200 g/ekor.

2. Panen total ialah dengan memungut semua teripang dari areal budidaya, kemudian diseleksi menurut ukuran.

Sebelum dipasarkan, teripang terlebih dahulu diproses agar diperoleh kualitas produk yang memenuhi standar pasar. Beberapa tahapan yang dilakukan dalam pengolhan teripang hingga siap untuk dipasarkan adalah sebagai berikut:

1. Teripang hasil panen dicuci terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian direndam dengan air campuran daun pepaya selama kurang lebih 15 menit. Rendaman ini dimaksudkan untuk me;arutkan zat kapur pada bagian kulit luar teripang.

2. Teripang yang sudah di rendam dengan air campuran daun pepaya dibersihkan dengan cara mengelupas kulit bagian luarnya (zat kapur).

3. Selanjutnya teripang direbus sampai mendidih selama 1 jam, lalu didinginkan sambil ditiriskan airnya.

4. Setelah dingin, teripang dibelah pada bagian abdomennya untuk mengeluarkan isi perutnya. Pada saat pembedahan diusahakan agar tidak banyak melukai otot-oto bagian tubuh teripang.

5. Setelah isi perut dikeluarkan, maka teripang siap untuk dipanggang dengan cara pengasapan hingga kering.

6. Lama pengasapn berkisar antara 3-5 jam, setelah itu teripang diikat kembali agar bekas pembedahan pada bagian abdomen tertutup kembali.

7. Teripang yang sudah diikat siap untuk dipacking dan proses pengemasannya perlu diperhatikan beberapa hal seperti bahan pengukus harus bersih, kering dan tidak mudah sobek.

Daftar Pustaka

http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:id:official&q=budidaya+teripang+laut&start=20&sa=N

http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:id:official&q=budidaya+teripang+laut&start=20&sa=N

http://hobiikan.blogspot.com/2009/05/budidaya-teripang-pasir.html

http://kamissore.blogspot.com/2009/06/kehidupan-teripang-laut.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Teripang

http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Budidaya%20Teripang%20Dan%20Prospeknya%20Di%20Masa%20Mendatang&&nomorurut_artikel=376

http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/30/budidaya-teripang/

http://gamat.org/gamat-jelly-budidaya-teripang/

http://health.topfiq-areef.net/2010/01/penyembuh-dari-dasar-samudera-sejak.html

Iklan

Plankton Net ( Go in English )

Filed under: Uncategorized — bornforthesea @ 9:05 am

Definition plankton

Sea organisms are divided into three groups, namely benthos, nekton, and plankton. Bentos are organisms that inhabit the bottom waters. Nekton are larger organisms with swimming activities in the pelagic area. Plankton are defined as organisms drift (no swimming ability), anything that lives in the pelagic zone (upper part) ocean ,sea , and bodies of freshwater .

Plankton is one of the most important organisms on earth, since it’s become food for aquatic life. For most marine of organisms, plankton is the main food. Plankton living on the coast where he received supplies of salt minerals and adequate sunlight. It is important to allow them to survive. It’s not surprising that there are lots of fish in coastal areas. That’s why active fishing activities carried on in this area.

Plankton are organisms that drift or float in life pelagic regions. However, there are also plankton with strong swimming ability so that it can perform daily migration.

Plankton divided into two major groups of phytoplankton (plankton plant or vegetable) and zooplankton (animal plankton).

a. Phytoplankton

Phytoplankton are autotrof component of plankton . Autotrof is an organism that is able to provide / synthesize their own food in the form of organic material from inorganic material with energy supply like the sun and chemicals. Autotrof component serves as a producer.

The name a phytoplankton is taken Greecephyton or ” plant “and πλαγκτος (” planktos “), meaning” wanderer “or” flower “. Most of the phytoplankton size is too small to be seen with the eyes . However, when in large numbers, they can appear as a green color in the water because they contain chlorophyll in their cells (although the actual color may vary for each species of phytoplankton as chlorophyll which is different or have extra pigment like phycobiliprotein).

There was a large phytoplankton and small, the large one are usually caught by plankton network that consists of two major groups, namely diatoms and dinoflagellate. Diatoms are easily distinguished from the dinoflagellate because of its shape like a box of unique glasses and don’t have motion stuff. In the process of reproduction of each diatom will divide itself into two. One half of the diatom life will occupy the top valve (epiteka) and second halves will occupy the lower valve ( hipoteka). While the second main group is characterized by a pair of dinoflagellate flagella which are used to move the water. Some dinoflagellate like Nocticula capable of producing light through a process bioluminesens (Nybakken, 1992).

Members of phytoplankton which is a minority is a variety of blue green algae (Cyanophyceae), kokolitofor (Coccolithophoridae, Haptophyceae), and silicoflagellata (Dictyochaceae, Chrysophyceae). Marine Cyanophyceae found only in tropical sea and visually make a form likes “carpet” filament and can be colorious the water (Nybakken, 1992).

Phytoplankton can only be found on the surface layer because of the requirements of his life in the places that have enough sunlight for photosynthesis. They will be more prevalent in places located in the continental shelf and along the coast where there is upwelling process. This area is usually rich enough organic materials.

Vegetable plankton called phytoplankton, are plants whose life float or drift in the sea. The size is so small as unvisible by eye. Generally, phytoplankton size 200-200 μm (1 μm = 0.001 millimeters).

b. Zooplankton

Zooplankton, also called animal plankton, is animals whose lives are floating, or floating in the sea. Swimming ability is very limited until its existence is very much determined where currents carry it. Zooplankton is heterotrophic, which means cannot produce their own organic material from inorganic material. Therefore, for survival, he was very dependent on organic matter from phytoplankton to the food. So, zooplanktonis more as a consumer of organic material.

The most common groups of zooplankton copepod, eufausid, misid (mysid), amfipod (Amphipod). Zooplankton can be found starting from the coastal waters, estuarine waters, in front of the estuary up to the waters in the middle of the ocean, from tropical seas to the polar waters.

Zooplankton are living on the surface and some are living in deep water. There also can perform daily vertical migration in the surface layer. Almost of all animals that can swim freely (nekton) or who live on the seabed (benthos) life beginning as zooplankton when still a egg and larvae. Few day ahead, towards the adult, the nature of the original life as plankton nekton or benthos turned into.

Plankton size is very diverse, from very small to big. Under this classification proposed by Sieburth et al. (1978), which is now widely used.

  • Makroplankton (20-20 millimeters)

Examples are Pteropods; Chaetognaths; Euphausiacea (krill); Medusae, ctenophores, salps, doliolids and pyrosomes (pelagic tunicates); cephalopod.

  • Mesoplankton (0.2 to 2 millimeters)

Most zooplankton are in this group, like metazoans; copepods; Medusae; Cladocera, Ostracoda; Chaetognaths; Pteropods; tunicates; Heteropoda.

  • Mikroplankton (20-200 m)

Examples are: large eukaryotic protist; most phytoplankton; Protozoa (Foraminifera); ciliates; Rotifera; young metazoans – crustacean (copepod nauplii)

  • Nanoplankton (2-20 m)

Plankton which escaped from the nets, but larger than 2 μm. Or size 2-20 μm; example: small eukaryotic protists; small Diatoms; small Flagellates; Pyrrophyta; Chrysophyceae; Chlorophyta; Xanthophyta

  • Picoplankton (0.2 to 2 m)

For example: small eukaryotic protists; bacteria; Chrysophyceae

  • Femtoplankton (<0.2 m)

Examples: sea Virus

Phytoplankton & Zooplankton abundance values can be based on abundance data, that can be processed to determine the community structure of phytoplankton and zooplankton.

K = Value of plankton abundance (ind / liter; cells / liter)
K = N x 1 x 1 n = number of species of plankton enumeration results (eng; cell)
f v f = fraction of employed
v = volume of water filtered (liters)

Plankton sampling method:

  1. Qualitative, that is intended to determine the types of plankton
  2. Quantitative, ie to determine the abundance of plankton related to the distribution of time and place.

Plankton net

Many tools were created for the purpose of water with, a tool often use for sampling with plankton as object is plankton net. Plankton net is the nets with mesh size adjusted to plankton. The use of nets is so simple, practise and also gained quite a lot of plankton. Ordinary net plankton net made of nylon, usually conical in shape with various sizes, but the average length of nets is 4-5 times the diameter of the mouth. Nets are used to filter the water and are therein plankton. Therefore plankton captured depends on the size of mesh size, the size of the mesh size used should be tailored to the type or size of the plankton which will be observed. For plankton relatively large size (especially zooplankton) using nets No.0, or No. 3, while more for the smaller plankton using No.15, or No.20. for shallow waters in tropical region, Wickstead advocated by the size of mesh size 30-50 μm for phytoplankton and small zooplankton. While for mezooplakton larger mesh size used in the size of 150-175 μm.

The final part there are bucket tool tip net collected plankton bucket. These tools are usually tubular container that easily removed from the jar. Bucket principle must meet the following requirements:

–  can easily be operated at sea

–  does not hold too much water.

In the study of quantitative analysis (galore), the volume of data required / discharge the filtered water through the nets, so that the abundance of plankton can be calculated with the tail unit per m 3 of water filtered. For the recording of water discharge, used flow meter using the formula:

V = volume of water filtered (m3)
V = R ap R = number of propeller blades rotating flow meter
a = area of net mouth (m2)
p = length of water column (m) which adopted a single round

Construction of a plankton net

  1. Ring: located above and serves as a binding rope and a towing a plankton net. The ring is usually made from iron. The diameter of the ring are varies depend on brand and type of plankton net, but in general the diameter of this ring is 15 – 25cm.
  2. Rope: used to connect nets with rings. The length of the string varies depending on the type of plankton net and plankton will be taken, but the rope is usually used size 25 – 50cm
  3. Wire: used to form the mouth of the net and nets can be adjusted as per our requested. Wire diameter is usually 31cm to 45cm for phytoplankton and zooplankton.
  4. Nets: used usually of nylon material. Mesh size of nets are usually 30-50 μm to 150-175 μm for phytoplankton and zooplankton, the net length of about 4-5 times the diameter of the mouth of the net.
  5. Bottle / bucket: function to save water samples have been filtered by a plankton net.
Various measures of the net eye (Muller gauze) based on trade numbers (Motoda 1957)
Number Amount Average Size Number
Trade Nets eye Average Length Trade Destination Collection
Gauze Muler Per inch Nets eye Japan
0000 18 1,364 mm GG 18
000 23 1,024 mm GG24
0 38 0,569 mm GG 40 Hydromedusa, Euphausiids, dll
3 58 0,333 mm GG 54 Copepoda, dll.
5 66 0,282 mm GG70 Copepoda, diatom, dll.
15 150 0,094 mm XX13 Diatom, dinoflagelata, dll
20 173 0,076 mm Mikrozooplakton
25 200 0,064 mm Mikrozooplakton
sumber: LIPI, 1997

Types of Plankton Net

Plankton Collection Method

The sampling method using a plankton net is divided into two different ways depending on the purpose we need, usually distinguished by:

  1. By Horizontal sampling: Sampling method is plankton in horizontal distribution of plankton intended to determine the horizontal. Plankton net at a point at sea, the ship is pulled toward the other point, take the sample slowly as the movement of vessels (± 2 knots), a plankton net is pulled to the distance and time (typically ± 5-8 minutes). How many filtered water was obtained from figures on the flow meter or by multiplying the distance between two points with diameter plankton net. Flow meter for increased accuracy. By the way horizontal limited sample in one layer only.
  2. The Vertical sampling: It is the easiest way to take samples from the entire water column (composite sample). When the boat stopped, plankton net down to the bottom with a weight attached it. After that plankton net pulled upwards with constant velocity. For fine mesh size used speed 0.5 m / sec for coarse mesh eyes 1.0 m / sec.
  3. Sampling in Italic (Oblique): nets down slowly when the vessel moved slowly (± 2 knots). Large wire angle with the vertical lines ± 45 ˚, after reaching the required depth than slowly pulled plankton net with the same angular position. The plankton samples obtained from different layers of trapped water. The weakness of this method is take too much time.

Preserved samples

After plankton removed from the bucket immediately preserved in a wide mouth bottle. Preservatives that are not specifically research usually use formalin 4% (was neutralized borax). The fluid is a mixture of technical formalin (formaldehyde-yield market sold 40%) was mixed with 9 part of water -containing samples. Whereas for specific research, the sample is cooled between -10 to -25 ˚ C to metabolism plankton does not work. To avoid the mistake of samples needed in the glue bottle label mentioned as below:

–  Station number

–  Date and time

–  Depth

–  Name of vessel

–  Any other necessary data

Plankton Sample Analysis

Four categories of plankton analysis is most easily done is volume, fresh weight, dry weight, and counting.

  1. Measurement volume (biomass): by determining the volume with the aim to know the number plankton quantitatively without identifying its composition (the volume of plankton per unit volume of water).
  2. Measurement of wet weight and dry weight: by eliminating the water contained between plankton by absorbing water with filter paper or a suction pump. Weighing is usually used to determine the weight zooplankton (not phytoplankton). Calculations used wet weight scales with high sensitivity. Dry weight obtained after the sample baked at a temperature of 50 ˚ C for 24 hours.  To reduce the water content until and get stable weight. Too high temperature causes the plankton lipid to be  organic compounds break down, or missing.
BS = Weight plankton wet / dry (mg/m3)
BS = 1 – P 2 1 = Weight of filter with paper samples (mg/m3)
S 2 = Weight of filter with no sample (mg/m3)
S = Volume of water filtered (m3)

Counting the number of abundance: common way to chop samples with sample dilution and then fraction / part of the sample is calculated. In a simple sum of shredded multiplied by the number of fractions.

Data Analysis and Making Conclusion

Data analysis: After the enumeration and tabulated the results obtained, researchers conducted the analysis with statistical methods. By determining the condition of the plankton community sector in waters used in the formula:

  1. Index of diversity: diversity of taxa to identify aquatic biota. The higher the index value, meaning the waters plankton community more diverse and not dominate. Indexs diversity based on Shannon & Weaver formula:
s
H = Σ Pi ln Pi ; Pi = ni
1 = 1 N
H = diversity index
ni = number of cells / fish of biota taxa i
N = number of cells / fish of biota taxa in the sample
S = number of taxa in samples of biota

1. Evenness Index: showing  distribution pattern of plankton, a relatively high index value indicates that the content of each taxon is not much different. The formula used is Pielou’s:

J = H J =Evenness index
ln  S H = diversity index
S = number taxa of biota in the sample

2. Wealth index: find out more or less equivocal and concentration of biota in one community:

d = S – 1 d = index taxa richness
ln N S = number of taxa in one sample
N = number of cell / tail of the taxa of biota in a single sample

If a community consists of a single taxon, the index value is zero.

Making conclusions: some important things to consider in taking the conclusions are:

  1. Sea plankton are not spread evenly, both horizontally and vertically.
  2. Many plankton perform vertical migration, that cause density difference between morning and evening.
  3. Stimulation of plankton near the coast varies especially around the estuary:
  4. Indonesia climate that is tropical with different environmental parameters (temperature, salinity, DO, nutrients) not too plain, it avite difficult for making conclusion.
  5. Conclusion plankton distribution and environmental factors that were observed simultaneously alco need respect to weather conditions, geographic, and biology at the time of sampling.

REFERENCES

Ranges of abundance and Koposisi Plakton predominant in the eastern waters of Indonesia. 1997. Oseanilogi development center jakarta science institutions.

Nybakken, JW 1992. Marine Biology An Ecological Approach. Jakarta Gramedia

http://pangerancakeb.wordpress.com/education/planktology/

http://wwwscienceletter07.blogspot.com/2009/11/plankton.html

http://aquaculture-unri.blogspot.com/2009/02/planktonologi.html

http://er.jsc.nasa.gov/SEH/Ocean_Planet/activities/ts3meac3.pdf

http://www.bigelow.org/foodweb/satellite2.html

Source image:

Ranges of abundance and Koposisi Plakton predominant in the eastern waters of Indonesia. 1997. Oseanilogi development center jakarta science institutions.

http://www.kvestergaard.dk/kcdenmark/Products/Plankton_nets/Digital_flow_meter_with_back-run_stop/digital_flow_meter_with_back_run_stop. html

http://www.epa.gov/glnpo/image/vbig/equipment/plankton.jpg

http://el.erdc.usace.army.mil/zebra/zmis/zmishelp/plankton_nets.htm

http://er.jsc.nasa.gov/SEH/Ocean_Planet/activities/ts3meac3.pdf

Plankton Net

Filed under: Uncategorized — bornforthesea @ 8:57 am

PENGERTIAN PLANKTON

Secara garis besar organisme lautan terbagi atas tiga golongan yaitu bentos, nekton, dan plakton. Bentos adalah organisme yang mendiami dasar perairan. Nekton merupakan organisme yang lebih besar dengan kemampuan renang yang melakukan kegiatan di daerah pelagik. Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut (tidak memiliki kemampuan renang) apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar.

Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik. Bagi kebanyakan organisme laut, plankton adalah makanan utama. Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan penangkap ikan aktif dijalankan di kawasan ini.

Plankton  adalah organisme yang hidupnya melayang atau mengambang di daerah pelagik. Namun demikian ada juga plankton yang memiliki kemampuan renang cukup kuat sehingga dapat melakukan migrasi harian.

Plankton dibagi menjadi dua golongan besar yaitu fitoplankton(plakton tumbuhan atau nabati) dan zooplankton(plankton hewani).

A. Fitoplankton

Fitoplankton adalah komponen autotrof plankton. Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen.

Nama fitoplankton diambil dari istilah Yunani, phyton atau “tanaman” dan πλαγκτος (“planktos”), berarti “pengembara” atau “penghanyut”. Sebagian besar fitoplankton berukuran terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi, ketika berada dalam jumlah yang besar, mereka dapat tampak sebagai warna hijau di air karena mereka mengandung klorofil dalam sel-selnya (walaupun warna sebenarnya dapat bervariasi untuk setiap spesies fitoplankton karena kandungan klorofil yang berbeda beda atau memiliki tambahan pigmen seperti phycobiliprotein).

Fitoplankton ada yang berukuran besar dan kecil dan biasanya yang besar tertangkap oleh jaringan plankton yang terdiri dari dua kelompok besar, yaitu diatom dan dinoflagellata. Diatom mudah dibedakan dari dinoflagellata karena bentuknya seperti kotak gelas yang unik dan tidak memiliki alat gerak. Pada proses reproduksi tiap diatom akanmembela dirinya menjadi dua. Satu belahan dari bagian hidup diatom akan menempati katup atas (epiteka) dan belahan yang kedua akan menempati katup bawah (hipoteka). Sedangkan kelompok utama kedua yaitu dinoflagellata yang dicirikan dengan sepasang flagella yang digunakan untuk bergerak dalam air. Beberapa dinoflagellata seperti Nocticula yang mampu menghasilkan cahaya melalui proses bioluminesens (Nybakken, 1992).

Anggota fitoplankton yang merupakan minoritas adalah berbagai alga hijau biru (Cyanophyceae), kokolitofor (Coccolithophoridae, Haptophyceae), dan silicoflagellata (Dictyochaceae, Chrysophyceae). Cyanophyceae laut hanya terdapat di laut tropik dan sering sekali membentuk “permadani” filamen yang padat dan dapat mewarnai air (Nybakken, 1992).

Fitoplankton hanya dapat dijumpai pada lapisan permukaan saja karena persyaratan hidupnya pada tempat-tempat yang mempunyai sinar matahari yang cukup untuk melakukan fotosintesis. Mereka akan lebih banyak dijumpai pada tempat yang terletak di daerah continental shelf dan di sepanjang pantai dimana terdapat proses upwelling. Daerah ini biasanya merupakan suatu daerah yang cukup kaya akan bahan-bahan organic.

Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang di laut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 – 200 µm (1 µm = 0,001mm).

B. Zooplankton

Zooplankton, disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya mengapung, atau melayang dalam laut. Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya, ia sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya. Jadi, zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen (consumer) bahan organik.

Kelompok yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod), eufausid(euphausid), misid (mysid), amfipod (amphipod). Zooplankton dapat dijumpai mulai dari perairan pantai, perairan estuaria, di depan muara sampai ke perairan di tengah samudra, dari perairan tropis hingga ke perairan kutub.

Zooplankton ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup di perairan dalam. Ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan dalam ke permukaan. Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar laut (bentos) menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yakni ketika masih berupa terlur dan larva. Baru dikemudian hari, menjelang dewasa, sifat hidupnya yang semula sebagai plankton berubah menjadi nekton atau bentos.

Ukuran plankton sangat beraneka ragam, dari yang sangat kecil hingga yang besar. Penggolongan di bawah ini diusulkan oleh Sieburth dkk. (1978) yang kini banyak digunakan.

  • Makroplankton (2-20 mm)

Contohnya adalah Pteropods; Chaetognaths; Euphausiacea (krill); Medusae; ctenophores; salps, doliolids and pyrosomes (pelagic Tunicata); Cephalopoda.

  • Mesoplankton (0,2-2 mm)

Sebagian besar zooplankton berada dalam kelompok ini, seperti metazoans;copepods; Medusae; Cladocera; Ostracoda; Chaetognaths; Pteropods; Tunicata; Heteropoda.

  • Mikroplankton (20-200 µm)

Contohnya adalah: eukaryotic protist besar; kebanyakan phytoplankton; Protozoa (Foraminifera); ciliates; Rotifera; metazoans muda – Crustacea (copepod nauplii)

  • Nanoplankton (2-20 µm)

Plankton yang lolos dari jaring, tetapi lebih besar dari 2 µm. Atau berukuran 2-20 µm; Contohnya: eukaryotic protista kecil; Diatoms kecil; Flagellates kecil; Pyrrophyta; Chrysophyta; Chlorophyta; Xanthophyta

  • Picoplankton (0,2-2 µm)

Contohnya: eukaryotic protists kecil; bacteria; Chrysophyta

  • Femtoplankton (< 0.2 μm)

Contohnya: Virus laut

Nilai kelimpahan Fitoplankton & Zooplankton di dapat berdasarkan data kelimpahan, agar dapat diolah untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton dan  zooplankton.

K = Nilai kelimpahan plankton (ind/liter; sel/liter)
K = n x 1 x 1 n = Jumlah jenis plankton hasil pencacahan (ind ; sel)
f v f = fraksi yang dipergunakan
v = volume air tersaring (liter)

Metode sampling Plankton:

  1. Kualitatif, yaitu dimaksudkan untuk mengetahui jenis–jenis plankton
  2. Kuantitatif, yaitu untuk mengetahui kelimpahan plankton yang berkaitan dengan  distribusi waktu dan tempat.

PLANKTON NET

Banyak alat yang diciptakan untuk tujuan water sampling, khusus untuk sampling dengan objek plankton, alat yang sering dugunakan adalah plankton net. Plankton net merupakan jaring dengan mesh size yang disesuaikan dengan plakton. Penggunaan jaring plakton selain praktis juga sampel yang diperoleh cukup banyak. Jaring plankton net biasa terbuat dari nilon, umumnya berbentuk kerucut dengan berbagai ukuran, tetapi rata-rata panjang jaring adalah 4-5 kali diameter mulutnya. Jaring berfungsi untuk menyaring air serta plakton yang berada didalamnya. Karena itu plakton yang tertangkap sangat bergantung pada ukuran mesh size, maka ukuran mesh size yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis atau ukuran plankton yang akan diamati. Ukuran plakton yag relatif besar (terutama zooplankton) menggunakan jaring No.0 atau No.3, sedangkan yang lebih untuk plankton yang lebih kecil menggunakan No.15 atau No.20. untuk perairan dangkal didaerah tropis, Wickstead menganjurkan mesh size dengan ukuran 30-50 µm untuk fitoplankton dan zooplankton  kecil. Sedangkan untuk mezooplakton yang lebih besar digunakan ukuran mesh size 150-175 µm.

Bagian akhir ujung jating terdapat bucket alat penampung plankton yang terkumpul. Alat penampung ini biasanya berbentuk tabung yang mudah dicopot dari tabungnya. Prinsipnya bucket harus memenuhi syarat:

–  dapat dengan mudah dioperasikan dilaut

–  tidak menampung air terlalu banyak.

Dalam penelitian analisis kuantitatif (kelimpahan), diperlukan data  volume/ debit air yang tersaring melalui jaring, sehingga kelimpahan plankton dapat dihitung dengan satuan ekor per m3 air yang tersaring. Untuk pencatatan debit air, digunakan flowmeter dengan menggunakan rumus :

V= volume air tersaring (m3 )
V = R a p R= jumlah rotasi baling baling flowmeter
a= luas mulut jaring(m2)
p= panjang kolom air (m) yang ditempuh satu kali putaran

Konstruksi plankton net

  1. Cincin: terletak di atas dan berfungsi sebagai pengikat tali dan sebagai penarik plankton net. Cincin biasanya terbuat dari besi. Diameter cincin berbeda – beda tergantug dari merk dan jenis plankton net, namun pada umumnya diameter cincin ini yaitu 15 – 25cm.
  2. Tali: berfungsi untuk menghubungkan jaring dengan cincin. Panjang tali bervariasi tergantung jenis plankton net dan jenis plankton yang akan diambil, namun biasanya tali yang digunakan berukuran 25 – 50cm
  3. Kawat: digunakan untuk membentuk net atau mulut jaring sesuai keinginan dan kebutuhan kita. Diameter kawat biasanya 31cm untuk fitoplankton dan 45cm untuk zooplankton.
  4. Jaring: digunakan biasanya dari bahan nilon. Mesh size dari jaring ini biasanya 30 – 50 µm untuk fitoplankton dan 150-175 µm untuk zooplankton, panjang jaring sekitar 4-5 kali diameter mulut jaring.
  5. Botol/ bucket: berfungsi untuk menyimpan sampel air yang telah disaring oleh plankton net.
Berbagai ukuran mata jaring (Muller gauze) berdasarkan nomor dagang (Motoda 1957)
Nomor Jumlah Ukuran Rata- Nomor
Dagang Mata Jaring rata Panjang Dagang Tujuan Koleksi
Muler Gauze Per inch Mata Jaring Jepang
0000 18 1,364 mm GG 18
000 23 1,024 mm GG24
0 38 0,569 mm GG 40 Hydromedusa, Euphausiids, dll
3 58 0,333 mm GG 54 Copepoda, dll.
5 66 0,282 mm GG70 Copepoda, diatom, dll.
15 150 0,094 mm XX13 Diatom, dinoflagelata, dll
20 173 0,076 mm Mikrozooplakton
25 200 0,064 mm Mikrozooplakton
sumber: LIPI, 1997

Jenis-jenis Plankton Net

Metode Pengambilan Plankton

Metode pengambilan sampel menggunakan plankton net terbagi atas dua cara tergantung pada tujuan yang diiginkan, biasanya dibedakan atas :

  1. Sampling Secara Horizontal: Metoda pengambilan plankton secara horizontal ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran plankton horizontal.. Plankton net pada suatu titik di laut, ditarik kapal menuju ke titik lain, penganbilan sampel seiring pergerakan kapal secara perlahan (±2 knot), plankton net ditarik untuk jarak dan waktu tertentu (biasanya ± 5-8 menit). Jumlah air tersaring diperoleh dari angka pada flowmeter atau dengan mengalikan jarak diantara dua titik tersebut dengan diameter plankton net. Flowmeter untuk peningkatan ketelitian. Dengan cara horozontal sampel terbatas pada satu lapisan saja.
  2. Sampling Secara Vertikal: Merupakan cara termudah untuk mengambil sampel dari seluruh kolom air (coposite sample). Ketika kapal berhenti, plankton net diturunkan sampai ke kedalaman yang diinginkan dengan pemberat dibawahnya. Setelah itu plankton net ditariknya keatas dengan kecepatan konstan. Untuk mesh size halus digunakan kecepatan 0,5 m/detik untuk mata jaring kasar 1,0 m/detik.
  3. Sampling Secara Miring (Obelique): jaring diturunkan perlahan ketika kapal bergerak perlahan (±2 knot). Besar sudut kawat dengan garis vertikal ± 45˚, setelah mencapai kedalaman yang diinginkan plankton net ditarik secara perlahan dengan posisi sudut yang sama. Sampel yang didapat merupakan plankton yang terperangkap dari berbagai lapisan air. Kelemahan metode ini adalah waktu yang dibutuhkan relatif lama.

Pengawetan sampel

Setelah plankton dikeluarkan dari bucket segera diawetkan di botol yang mulutnya cukup luas. Bahan pengawet yang bukan untuk penelitian khusus biasanya menggunakan formalin 4% (sudah dinetralkan borax). Cairan tersebut merupakan campuran dari formalin teknis (formalin yang dijual dipasar berkadar 40%) dicampur dengan 9 bagfian ari yang mengandung sampel. Sedangkan untuk penelitian khusus, sampel didinginkan antara -10 sampai dengan -25˚C agar metabolisme tubuh plankton tidak berkerja. Untuk menghindari kekeliruan botol sampel perlu di tempelkan label bertuliskan:

–  Nomor stasiun

–  Tanggal dan waktu

–  Kedalaman

–  Nama kapal

–  Data lain yang dianggap perlu

Analisis Sampel Plankton

Empat kategori analisis plankton yang paling mudah dilakukan yaitu volume, berat basah, berat kering, dan pencacahan.

  1. Pengukuran volume(biomassa): dengan menentukan volume dengan tujuan mengetahui banyaknya plakton secara kuantitatif tanpa mengidentifikasi komposisinya (volume plankton per satuan volume air).
  2. Pengukuran berat basah dan berat kering: dengan cara menghilangkan air yang terdapat diantara plankton denfgan cara menyerap air dengan kertas filter atau pompa hisap. Penimbangan biasanya digunakan untuk menentukan berat zooplankton (bukan fitoplankton). Perhitungan berat basah digunakan timbangan dengan kepekaan tinggi. Berat kering didapatkan setelah sampel dioven pada suhu 50˚C selama 24 jam agar kadar airnya hilang dan beratnya stabil. Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan lemak plankton akan berubah menjadi senyawa organik terurai, hilang atau sebagainya.
BBS = berat plakton basah/ kering (mg/m3)
BBS = P1 – P2 P1 = berat sampel degan kertas filter (mg/m3)
VS P2 = berat filter tanpa sampel (mg/m3)
VS = volume air tersaring (m3)
  1. Penghitungan jumlah kelimpahan: cara umum yang dilakukan untuk mencacah sampel adalah dengan pengenceran sampel dan kemudian fraksi/ bagian dari sampel dihitung. Secara sederhana jumlah hasil cacahan dikalikan dengan jumlah fraksi.

Analisis Data dan Pengambila Kesipulan

Analisis data: setelah didapatkan hasil pencacahan dan ditabulasi, peneliti melakukan analisis dengan metode statistika. Dengan menentukan komunitas kondisi plankton disuatu perairan digunakan rumus:

1. Indeks diversitas: untuk mengetahui keragaman taksa biota perairan. Nilai indeks makin tinggi, berarti komunitas plakton di perairan tersebut semakin beragam dan tidak mendominasi. Indekd diversitas berdasarkan rumus Shanon & Weaver:

s
H = Pi  ln  Pi ; Pi = ni
1=1 N
H = indeks diversitas
ni = jumlah sel/ ekor dari taksa biota i
N = jumlah sel/ ekor dari taksa biota di dalam sampel
S = jumlah taksa biota dalam sampel

2. Indeks kemerataan: menunkukan pola sebaran plankton, nilai indeks yang relatif tinggi menandakan bahwa kandungan setiap takson tidak banyak berbeda. Rumus yang digunakan adalah Pielou:

J = H J = indeks kemerataan
ln    S H= indeks diversitas
S= jumla taksa biota dalam sampel

3. Indeks kekayaan: mengetahui banyak sedikitnya taksa serta konsentrasi biota dalam satu komunitas:

d = S – 1 d= indeks kekayaan taksa
ln  N S= jumlah taksa dalam satu sampel
N= jumlah sel/ekor dari taksa biota dalam satu sampel

Jika komunitas terdiri dari satu takson maka nilai indeksnya adalah nol.

Pengambilan kesimpulan: beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam mengambil kesimpulan adalah:

  1. Dilautan plankton tidak menyebar secara merata, baik horizontal maupun vertikal.
  2. Banyak plankton melakukan migrasi vertikal, yang menyebadkan perbedaan kepadatan antara pagi dan malam hari.
  3. Didekat pantai plankton sangan berfariasi terutama di sekitar estuari:
  4. Iklim indonesia yang bersifat tropik dengan perbedaan parameter lingkungan (suhu, salinitas, DO, zat hara) yang tidak telalu tajam menyebabkan pengambilan kesimpulan agak sukar.
  5. Kesimpulan sebaran plankton dan faktor lingkungan yang diamati secara bersamaan perlu memperhatikan kondisi cuaca, geografik, dan biologi pada saat sampling.

DAFTAR PUSTAKA

Kisaran Kelimpahan dan Koposisi Plakton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. 1997. Pusat pengembangan oseanilogi lembaga ilmu pengetahuan jakarta.

Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. Gramedia Jakarta

http://pangerancakeb.wordpress.com/education/planktology/

http://wwwscienceletter07.blogspot.com/2009/11/plankton.html

http://aquaculture-unri.blogspot.com/2009/02/planktonologi.html

http://er.jsc.nasa.gov/SEH/Ocean_Planet/activities/ts3meac3.pdf

http://www.bigelow.org/foodweb/satellite2.html

Sumber gambar:

Kisaran Kelimpahan dan Koposisi Plakton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. 1997. Pusat pengembangan oseanilogi lembaga ilmu pengetahuan jakarta.

http://www.kvestergaard.dk/kcdenmark/Products/Plankton_nets/Digital_flow_meter_with_back-run_stop/digital_flow_meter_with_back_run_stop. html

http://www.epa.gov/glnpo/image/vbig/equipment/plankton.jpg

http://el.erdc.usace.army.mil/zebra/zmis/zmishelp/plankton_nets.htm

http://er.jsc.nasa.gov/SEH/Ocean_Planet/activities/ts3meac3.pdf

Hello world!

Filed under: Uncategorized — bornforthesea @ 8:30 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.