bornforthesea's Blog

Juni 7, 2010

Sejarah Budidaya Laut

Filed under: Uncategorized — bornforthesea @ 9:10 am

1. SEJARAH BUDIDAYA LAUT

Sejak zaman dahulu, sekitar 2000 tahun sebelum masehi, usaha budidaya laut telah dilakukan oleh bangsa Jepang, yaitu ketika mulai membudidayakan tiram laut (oyster). Setelah itu pengembangan budidaya laut dilanjutkan oleh bangsa cina, yaitu sekitar 475 sebelum masehi dan budidaya tiram laut di Junani sejak 100 tahun sebelum Masehi (Milne, 1972).
Sedangkan di Indonesia, budidaya laut mulai diikembangkan dengan ditandainya keberhasilan perusahaan Jepang dalam membudidayakan tiram mutiara pada tahun 1928 di Buton – Sulawesi Tenggara.

2. MENGAPA DILAKUKAN BUDIDAYA LAUT????

Saat ini Indonesia berada di peringkat ke enam sebagai negara penghasil perikanan terbesar di dunia. Namun demikian sekitar 77 % hasil tersebut bersal dari perikanan tangkap. Hal ini dapat dimengerti karena perburuan ikan di laut (perairan umum) lebih dulu dilakukan masyarakat dibanding budidaya ikan. Penangkapan ikan di laut yang pada hakekatnya merupakan panen organisme dari perairan umum pada awalnya dilakukan dengan alat-alat yang sederhana dan kemudian menggunakan alat yang sangat modern.Karena tingginya produksi perikanan tangkap di Indonesia, membuat banyak komoditi perikanan terancam jumlahnya karena over fishing. Saat ini budidaya laut di Indonesia mulai berkembang karena kesadaran masyarakat pada lingkungan mulai meningkat.
Ada beberapa keuntungan dari budidaya laut di bandingkan perikanan tangkap antara lain :

  • Membantu peningkatan pendapatan nelayan
  • Dapat menciptakan usaha dan lapangan kerja yang baru
  • Menghasilkan komoditi ekspor dalam rangka meningkatkan devisa negara.
  • Dapat menghasilkan bahan bagi industri : makanan, tekstil, obat-obatan dan kosmetika.
  • Menghasilkan bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi kebutuhan gizi keluarga

Selain itu ada beberapa keuntungan lain dari budidaya laut yaitu :

  • Dapat meningkatkan produksi organisme laut
  • Dapat menjaga kelestarian organisme laut

Keuntungan – keuntungan dari budidaya laut dapat diperoleh bila kita mengikuti proses dan jalan yang benar. Kebiasaan atau sifat dasar masyarakat Indonesia yang ingin serba instan membuat perkembangan usaha budidaya laut sedikit terhambat.

3. PENGERTIAN BUDIDAYA LAUT….!!!
Budidaya laut adalah upaya manusia melalui masukan tenaga kerja dan energi, untuk meningkatkan produksi organisme laut ekonomis penting dengan memanipulasi laju pertumbuhan, mortalitas dan reproduksi. Kegiatan budidaya telah dilakukan manusia sejak dulu yaitu pemeliharaan dalam media air dengan pemberian makanan untuk organisme yang dipelihara (Anonim, 2006).
Prinsip – Prinsip Budidaya Laut
Dalam budidaya laut berusaha untuk memaksimalkan hasil panen dari lingkungan perairan. Stok biomas dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu laju recruitment, laju pertumbuhan, laju kematian alami dan laju kematian akibat penangkapan. Perikanan tangkap berusaha untuk memaksimalkan hasil melaui kenaikan laju kematian, jika terlalu banyak ikan yang tertangkap maka recruitment dan pertumbuhan tidak mampu menggantiakan stok yang rusak. Berbeda dengan budidaya, meningkatnya hasil melalui manipulasi seluruh faktor populasi yaitu pertumbuhan, reproduksi dan recruitment serta mortalitas alami.

4. JENIS – JENIS ORGANISME BUDIDAYA….
lompok penting makhluk hidup yang biasa dibudidayakan dilaut adalah Molusca, Crustacea dan ikan (MILNE, 1972) serta rumput laut. Dalam kehidupan alamiah di perairan laut Sumatera Utara terdapat banyak jenis hewan dan rumput laut dari kelompok-kelompok di atas. Di antara jenis hewan itu telah sejak lama dipungut oleh nelayan secara tradisional. Rumput laut pernah diolah oleh satu perusahaan, tapi telah menghentikan usahanya.

Beberapa janis hewan laut menurut kelompok sebagai berikut :

    1. Kerang-kerangan (Anadara spp)
    2. Kerang hijau (Mytilus spp)
    3. Tiram (Crassostrea spp)
    4. Simping (Amusium spp)
    5. Remis (Meretrix spp)
    6. Penyu (Chelonia spp)
  1. Kelompok Crustacea
    1. Udang dogol (Metapenaeus spp)
    2. Udang barong (Panulirus spp)
    3. Kepiting bakau (Scylla serrata)
  2. Kelompok ikan (Finfish)
    1. Belanak (Mugil spp)
    2. Kakap putih (Lates calcarifer)
    3. Bandeng (Chanos-chanos)
    4. Ikan-ikan hias (ornamental fishes)

Proses Kegiatan Budidaya Teripang
Pemilihan lokasi merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan budi daya. Selain itu, beberapa pertimbangan bioekologi, sosial ekonomi, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku juga harus dipenuhi agar kemungkinan timbulnya beberapa hambatan/masalah di kemudian hari bisa diantisipasi sedini mungkin.
Pada umumnya budi daya teripang dilakukan di perairan pantai pada kawasan pasang surut. Ini disebabkan karena potensi lahan pantai masih cukup luas. Namun demikian, teripang mempunyai kemungkinan pula untuk dibudidayakan di kolam air laut (tambak) dengan syarat tertentu.

Secara umum, perairan pantai yang memiliki benih teripang alami cocok untuk tempat budi daya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan suatu lokasi yang tidak memiliki benih alami juga cocok untuk tempat budi daya.

Jenis teripang yang sudah dan banyak dibudidayakan di negara kita ialah teripang putih (Holothuria scabra). Hal ini dikarenakan harga teripang ini mahal, pertumbuhannya cepat, lebih toleran terhadap perubahan lingkungan, dan dapat dibudidayakan dengan padat penebaran tinggi. Oleh karena itu, pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan lokasi ini diutamakan untuk jenis teripang putih walaupun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan pada jenis-jenis teripang lain. Hal ini mengingat setiap jenis teripang mempunyai sifat biologi spesifik yang berbeda, tetapi secara umum habitatnya relatif sama.
Pertimbangan dalam pemilihan lokasi tersebut adalah sebagai berikut :

a. Keterlindugan

Lokasi budi daya harus terlindung dari pengaruh ams, gelombang, maupun angin yang besar. Arus, gelombang, atau angin yang besar akan memsak sarana budi daya serta menyulitkan dalam pengelolaan budi daya. Lokasi yang terlindung dari pengaruh seperti ini biasa diketemukan di perairan teluk, laguna, atau perairan terbuka yang terlindung oleh gugusan pulau atau karang penghalang.

b. Kondisi dasar perairan

Dasar perairan hendaknya berpasir atau pasir berlumpur bercampur dengan pecahan-pecahan karang dan banyak terdapat tanaman air semacam rumpt laut (sea weed) dan alang-alang laut (sea gress)

c. Salinitas air laut

Dengan kemampuan yang terbatas dalam pengaturan osmotik, maka teripang tidak dapat bertahan hidup terhadap perubahan salinitas yang terjadi secara drastis. Salinitas optimum adalah 30-33 ppt.

d. Kedalaman air

Secara alami teripang hidup pada kedalaman perairan yang berbeda-beda menurut besarnya. Teripang muda tersebar didaerah pasang surut, setelah ukurannya bertambah besar maka berpindah ke dasar perairan yang lebih dalam. Lokasi yang cocok untuk budidaya teripang sebaiknya pada kisaran kedalaman air antara 0,5-1,5 m pada air surut terendah.

e. Ketersediaan benih

Lokasi pengembangan budidaya teripang sebaiknya tidak jauh dari tempat pengumpulan benih secara alamiah. Terdapat benih alamiah pada periaran tersebut adalah suatu indikator yang baik untuk lokasi budidaya teripang.

f. Kondisi Lingkungan

Kondisi perairan sebaiknya harus memenuhi standar kualitas air laut yang baik bagi kehidupan ( laju pertumbuhan dan sintasan). Teripang yang dibudidayakan, seperti : suhu air 20-250 C, pH air 6,5-8,5 , kadar oksigen terlarut 4-8 ppm, dan kecerahan 0,5-1,5 cm (cahaya matahari sampai kedasar), serta lokasi budidaya harus bebas dari pencemaran seperti limbah organik, logam berat, minyak dan bahan-bahan beracun lainnya.

g. Perairan Jernih.

Perairan harus jemih, bebas pencemaran dengan nilai kecerahan 50 – 150 cm yang diukur dengan piring seicchi.

h. Kemudahan

Lokasi budi daya harus mudah dijangkau. Selain itu, sarana produksi harus mudah diperoleh dan pemasaran harus dapat dilakukan dengan mudah di tempat itu. Pertimbangan lainnya, lokasi budi daya sebaiknya bukan merupakan. pusat kegiatan nelayan, bukan daerah penangkapan ikan, bukan wilayah pelayaran, dan bukan daerah pariwisata sehingga benturan kepentingan dapat dihindarkan.
2. Perizinan Budidaya

Dalam mendirikan tempat budidaya tidak bisa sembarangan mendirikan. Perlu ada perizinan kepada pemerintah daerah setempat yaitu pemda Kepulauan Karimun Jawa untuk mendirikan tempat budidaya. Dasar hukum dalam pendirian lokasi budidaya adalahKeputusan Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial, Nomor 70/PS.5/KPTS/IX/2008 tanggal 26 September 2008 tentang penetapan kelompok usaha bersama di provionsi kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa penerima program pemberdayaan fakir miskin melalui mekanisme bantuan langsung pemberdayaan sosial (BLPS).
3. Pemilihan Benih

Setelah izin pendirian lokasi budidaya telah didapatkan oleh pemerintah daerah Kepulauan Karimun Jawa, maka langkah selanjutnya sebelum melakukan kegiatan budidaya adalah pemilihan benih unggul yang akan dijadikan induk dan akan dibesarkan. Adapun untuk memilih benih unggul teripang dapat dilihat dari berbagai aspek, antara lain :

a. Tubuh tidak cacat.

b. Ukuran besar dengan berat 400 gr dan panjang tubuh minimal 20 cm.

c. Berkulit tebal.

Umumnya berat tubuh teripang berpengaruh langsung atau berkolerasi terhadap berat gonad dan indeks kematangan gonad serta fekunditas. Pengangkutan induk dari tempat pengumpulan dapat dilakukan dengan wadah, seperti ember plastik yang berisi air laut atau langsung ditempatkan pada palka perahu. Untuk pengumpulan/pengankutan calon induk pada siang hari sebaliknya wadah penampungan atau palka ditutup teripang atau ilalang laut untuk menghindarkan calon induk dari sinar matahari secara langsung. Pengangkutan induk dari tempat pengumpulan dapat dilakukan dengan wadah, seperti ember plastik yang berisi air laut atau langsung ditempatkan pada palka perahu.

Budidaya Teripang

Metode yang digunakan untuk membudidayakan teripang (ketimun laut) yaitu dengan menggunakan metode penculture. Metode penculture adalah suatu usaha memelihara jenis hewan laut yang bersifat melata dengan cara memagari suatu areal perairan pantai seluas kemampuan atau seluas yang diinginkan sehingga seolah-olah terisolasi dari wilayah pantai lainnya.

Bahan yang digunakan ialah jaring (super-net) dengan mata jaring sebesar 0,5 – 1 inci atau dapat juga dengan bahan bambu (kisi-kisi). Dengan metode ini maka lokasi/areal yang dipagari tersebut akan terhindar dari hewan-hewan pemangsa (predator) dan sebaliknya hewan laut yang dipelihara tidak dapat keluar dari areal yang telah dipagari tersebut.

Pemasangan pagar untuk memelihara teripang, baik pagar bambu (kisi-kisi) ataupun jaring super net cukup setinggi 50 cm sampai 100 cm dari dasar perairan. Luas lokasi yang ideal penculture ini antara 500 – 1.000 m2.

a. Sumber benih teripang
Benih teripang dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu :

  • melakukan pemungutan dari alam dan
  • dengan memelihara induk-induk teripang pada petak-petak di dalam area penculture.

Teripang yang dijadikan induk ialah yang sudah dewasa atau diperkirakan sudah dapat melakukan reproduksi dengan ukuran berkisar antara 20 – 25 cm. Sedangkan benih teripang alam yang baik untuk dibudidayakan dengan metoda penculture adalah yang memiliki berat antara 30 sampai 50 gram per ekor atau kira-kira memiliki panjang badan 5 cm sampai 7 cm. Pada ukuran tersebut benih teripang diperkirakan sudah lebih tahan melakukan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.

b. Pengangkutan benih/induk
Di dalam hal budidaya teripang cara pengangkutan benih/ induk merupakan hal yang penting. Lebih-lebih apabila sumber benih/induk teripang yang akan dibudidayakan letaknya relatif jauh, sehingga diperlukan teknik yang baik didalam pengangkutan teripang tersebut agar tetap hidup sampai di lokasi budidaya. Metode pengangkutan teripang agar dapat memberikan tingkat kehidupan yang tinggi adalah sebagai berikut:

  • Teripang dimasukan pada kantong plastik ukuran 2 liter dengan media air dan pasir. Sebelumnya kantong plastik digelembungkan untuk melihat kantong tersebut bocor atau tidak.
  • Kepadatan untuk masing-masing jenis adalah : untuk teripang putih dan teripang grido dengan berat antara 100-200 g adalah 3 ekor untuk setiap kantong, sedangkan untuk teripang jenis olok-olok 4 ekor untuk setiap kantong plastik.

c. Makanan Teripang
Faktor makanan dalam pemeliharaan (budidaya teripang tidak menjadi masalah sebagaimana halnya hewan-hewan laut lainnya. Teripang dapat memperoleh makanannya dari alam, berupaplankton dan sisa-sisaendapan karang yang beracadi dasar laut. Namun demikian untuk lebih mempercepat pertumbuhan teripang dapat diberikan makanan tambahan berupa campuran dedak dan pupuk kandang (kotoran ayam).

Cara pemberian makanan tambahan tersebut adalah sebagai berikut :

  • Dedak halus dan kotoran ayam dicampur rata
  • Campuran dimasukkan kedalam kantong plastik
  • Kemudian direndam deism air laut sampai campuran menjadi lengket, lalu dibentuk menjadi gumpalan.
  • Gumpalan tersebut kemudian disebar merata kedalam kurungan.

Cara lain agar pupuk tidak hanyut dapat dilakukan sebagai berikut:

  • Pupuk dimasukkan ke dalam karung plastik dan ditenggelamkan ditempat pemeliharaan.
  • Setelah kira-kira 10 hari akan muncul micro organisms sebagai makanan teripang.

Pemberian makanan tambahan sebaiknya dilakukan pada sore hari.. Hal ini disesuaikan dengan sifat hidup atau kebiasaan hidup dari teripang. Pada waktu siang hari teripang tidak begitu aktif bila dibandingkan dengan pada malam hari, karena pada waktu siang hari ia akan membenamkan dirinya dibawah dasar pasir/karang pasir untuk beristirahat dan untuk menghindari/melindungi dirinya dari pemangsa/predator, sedangkan pada waktu malam hari ia akan lebih aktif mencari makanan, baik berupa plankton maupun sisa-sisa endapan karang yang berada didasar perairan tempat hidupnya.

d. Padat penebaran
Teripang dapat hidup bergerombol dilempat yang terbatas. Oleh karena itu dalam usaha budidayanya dapat diperlakukan dengan padat penebaran yang tinggi. Untuk ukuran benih teripang sebesar 20 – 30 gram per ekor, padat penebaran berkisar antara 15 – 20 ekor per meter persegi, sedangkan untuk benih teripang sebesar 40 – 50 gram per ekor, padat penebarannya berkisar antara 10 – 15 ekor per meter persegi.

Waktu yang tepat untuk memulai usaha budidaya teripang disuatu lokasi tertentu ialah 2-3 bulan setelah waktu pemijahan teripang di alam (apabila menggunakan benih dari alam). Benih alam yang berumur 2 sampai 3 bulan diperkirakan sudah mencapai berat 20 – 50 gram per ekor.

Pasca Budidaya

Pemungutan hasil atau panen dapat dilakukan setelah teripang mencapai ukuran pasar (marketing size), yaitu berkisar antara 4-6 ekor/kg (berat basah). Untuk mendapatkan ukuran ini biasanya teripang dipelihara selama 6-7 bulan dengan sintasan yang dicapai kurang lebih 80% dari total penebaran awal. Panen dilakukan pada pagi hari sewaktu air sedang surut dan sebelum teripang membenamkan diri. Panen dapat dilakukan secara:

1. Panen selektif ialah dengan memilih teripang yang telah mencapai ukuran pasar degan berat rata-rata sekitar 200 g/ekor.

2. Panen total ialah dengan memungut semua teripang dari areal budidaya, kemudian diseleksi menurut ukuran.

Sebelum dipasarkan, teripang terlebih dahulu diproses agar diperoleh kualitas produk yang memenuhi standar pasar. Beberapa tahapan yang dilakukan dalam pengolhan teripang hingga siap untuk dipasarkan adalah sebagai berikut:

1. Teripang hasil panen dicuci terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian direndam dengan air campuran daun pepaya selama kurang lebih 15 menit. Rendaman ini dimaksudkan untuk me;arutkan zat kapur pada bagian kulit luar teripang.

2. Teripang yang sudah di rendam dengan air campuran daun pepaya dibersihkan dengan cara mengelupas kulit bagian luarnya (zat kapur).

3. Selanjutnya teripang direbus sampai mendidih selama 1 jam, lalu didinginkan sambil ditiriskan airnya.

4. Setelah dingin, teripang dibelah pada bagian abdomennya untuk mengeluarkan isi perutnya. Pada saat pembedahan diusahakan agar tidak banyak melukai otot-oto bagian tubuh teripang.

5. Setelah isi perut dikeluarkan, maka teripang siap untuk dipanggang dengan cara pengasapan hingga kering.

6. Lama pengasapn berkisar antara 3-5 jam, setelah itu teripang diikat kembali agar bekas pembedahan pada bagian abdomen tertutup kembali.

7. Teripang yang sudah diikat siap untuk dipacking dan proses pengemasannya perlu diperhatikan beberapa hal seperti bahan pengukus harus bersih, kering dan tidak mudah sobek.

Daftar Pustaka

http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:id:official&q=budidaya+teripang+laut&start=20&sa=N

http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:id:official&q=budidaya+teripang+laut&start=20&sa=N

http://hobiikan.blogspot.com/2009/05/budidaya-teripang-pasir.html

http://kamissore.blogspot.com/2009/06/kehidupan-teripang-laut.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Teripang

http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Budidaya%20Teripang%20Dan%20Prospeknya%20Di%20Masa%20Mendatang&&nomorurut_artikel=376

http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/30/budidaya-teripang/

http://gamat.org/gamat-jelly-budidaya-teripang/

http://health.topfiq-areef.net/2010/01/penyembuh-dari-dasar-samudera-sejak.html

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: