bornforthesea's Blog

Juni 7, 2010

Plankton Net

Filed under: Uncategorized — bornforthesea @ 8:57 am

PENGERTIAN PLANKTON

Secara garis besar organisme lautan terbagi atas tiga golongan yaitu bentos, nekton, dan plakton. Bentos adalah organisme yang mendiami dasar perairan. Nekton merupakan organisme yang lebih besar dengan kemampuan renang yang melakukan kegiatan di daerah pelagik. Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut (tidak memiliki kemampuan renang) apapun yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar.

Secara luas plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik. Bagi kebanyakan organisme laut, plankton adalah makanan utama. Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan penangkap ikan aktif dijalankan di kawasan ini.

Plankton  adalah organisme yang hidupnya melayang atau mengambang di daerah pelagik. Namun demikian ada juga plankton yang memiliki kemampuan renang cukup kuat sehingga dapat melakukan migrasi harian.

Plankton dibagi menjadi dua golongan besar yaitu fitoplankton(plakton tumbuhan atau nabati) dan zooplankton(plankton hewani).

A. Fitoplankton

Fitoplankton adalah komponen autotrof plankton. Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen.

Nama fitoplankton diambil dari istilah Yunani, phyton atau “tanaman” dan πλαγκτος (“planktos”), berarti “pengembara” atau “penghanyut”. Sebagian besar fitoplankton berukuran terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi, ketika berada dalam jumlah yang besar, mereka dapat tampak sebagai warna hijau di air karena mereka mengandung klorofil dalam sel-selnya (walaupun warna sebenarnya dapat bervariasi untuk setiap spesies fitoplankton karena kandungan klorofil yang berbeda beda atau memiliki tambahan pigmen seperti phycobiliprotein).

Fitoplankton ada yang berukuran besar dan kecil dan biasanya yang besar tertangkap oleh jaringan plankton yang terdiri dari dua kelompok besar, yaitu diatom dan dinoflagellata. Diatom mudah dibedakan dari dinoflagellata karena bentuknya seperti kotak gelas yang unik dan tidak memiliki alat gerak. Pada proses reproduksi tiap diatom akanmembela dirinya menjadi dua. Satu belahan dari bagian hidup diatom akan menempati katup atas (epiteka) dan belahan yang kedua akan menempati katup bawah (hipoteka). Sedangkan kelompok utama kedua yaitu dinoflagellata yang dicirikan dengan sepasang flagella yang digunakan untuk bergerak dalam air. Beberapa dinoflagellata seperti Nocticula yang mampu menghasilkan cahaya melalui proses bioluminesens (Nybakken, 1992).

Anggota fitoplankton yang merupakan minoritas adalah berbagai alga hijau biru (Cyanophyceae), kokolitofor (Coccolithophoridae, Haptophyceae), dan silicoflagellata (Dictyochaceae, Chrysophyceae). Cyanophyceae laut hanya terdapat di laut tropik dan sering sekali membentuk “permadani” filamen yang padat dan dapat mewarnai air (Nybakken, 1992).

Fitoplankton hanya dapat dijumpai pada lapisan permukaan saja karena persyaratan hidupnya pada tempat-tempat yang mempunyai sinar matahari yang cukup untuk melakukan fotosintesis. Mereka akan lebih banyak dijumpai pada tempat yang terletak di daerah continental shelf dan di sepanjang pantai dimana terdapat proses upwelling. Daerah ini biasanya merupakan suatu daerah yang cukup kaya akan bahan-bahan organic.

Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang di laut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 – 200 µm (1 µm = 0,001mm).

B. Zooplankton

Zooplankton, disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya mengapung, atau melayang dalam laut. Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya, ia sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya. Jadi, zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen (consumer) bahan organik.

Kelompok yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod), eufausid(euphausid), misid (mysid), amfipod (amphipod). Zooplankton dapat dijumpai mulai dari perairan pantai, perairan estuaria, di depan muara sampai ke perairan di tengah samudra, dari perairan tropis hingga ke perairan kutub.

Zooplankton ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup di perairan dalam. Ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan dalam ke permukaan. Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar laut (bentos) menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yakni ketika masih berupa terlur dan larva. Baru dikemudian hari, menjelang dewasa, sifat hidupnya yang semula sebagai plankton berubah menjadi nekton atau bentos.

Ukuran plankton sangat beraneka ragam, dari yang sangat kecil hingga yang besar. Penggolongan di bawah ini diusulkan oleh Sieburth dkk. (1978) yang kini banyak digunakan.

  • Makroplankton (2-20 mm)

Contohnya adalah Pteropods; Chaetognaths; Euphausiacea (krill); Medusae; ctenophores; salps, doliolids and pyrosomes (pelagic Tunicata); Cephalopoda.

  • Mesoplankton (0,2-2 mm)

Sebagian besar zooplankton berada dalam kelompok ini, seperti metazoans;copepods; Medusae; Cladocera; Ostracoda; Chaetognaths; Pteropods; Tunicata; Heteropoda.

  • Mikroplankton (20-200 µm)

Contohnya adalah: eukaryotic protist besar; kebanyakan phytoplankton; Protozoa (Foraminifera); ciliates; Rotifera; metazoans muda – Crustacea (copepod nauplii)

  • Nanoplankton (2-20 µm)

Plankton yang lolos dari jaring, tetapi lebih besar dari 2 µm. Atau berukuran 2-20 µm; Contohnya: eukaryotic protista kecil; Diatoms kecil; Flagellates kecil; Pyrrophyta; Chrysophyta; Chlorophyta; Xanthophyta

  • Picoplankton (0,2-2 µm)

Contohnya: eukaryotic protists kecil; bacteria; Chrysophyta

  • Femtoplankton (< 0.2 μm)

Contohnya: Virus laut

Nilai kelimpahan Fitoplankton & Zooplankton di dapat berdasarkan data kelimpahan, agar dapat diolah untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton dan  zooplankton.

K = Nilai kelimpahan plankton (ind/liter; sel/liter)
K = n x 1 x 1 n = Jumlah jenis plankton hasil pencacahan (ind ; sel)
f v f = fraksi yang dipergunakan
v = volume air tersaring (liter)

Metode sampling Plankton:

  1. Kualitatif, yaitu dimaksudkan untuk mengetahui jenis–jenis plankton
  2. Kuantitatif, yaitu untuk mengetahui kelimpahan plankton yang berkaitan dengan  distribusi waktu dan tempat.

PLANKTON NET

Banyak alat yang diciptakan untuk tujuan water sampling, khusus untuk sampling dengan objek plankton, alat yang sering dugunakan adalah plankton net. Plankton net merupakan jaring dengan mesh size yang disesuaikan dengan plakton. Penggunaan jaring plakton selain praktis juga sampel yang diperoleh cukup banyak. Jaring plankton net biasa terbuat dari nilon, umumnya berbentuk kerucut dengan berbagai ukuran, tetapi rata-rata panjang jaring adalah 4-5 kali diameter mulutnya. Jaring berfungsi untuk menyaring air serta plakton yang berada didalamnya. Karena itu plakton yang tertangkap sangat bergantung pada ukuran mesh size, maka ukuran mesh size yang digunakan harus disesuaikan dengan jenis atau ukuran plankton yang akan diamati. Ukuran plakton yag relatif besar (terutama zooplankton) menggunakan jaring No.0 atau No.3, sedangkan yang lebih untuk plankton yang lebih kecil menggunakan No.15 atau No.20. untuk perairan dangkal didaerah tropis, Wickstead menganjurkan mesh size dengan ukuran 30-50 µm untuk fitoplankton dan zooplankton  kecil. Sedangkan untuk mezooplakton yang lebih besar digunakan ukuran mesh size 150-175 µm.

Bagian akhir ujung jating terdapat bucket alat penampung plankton yang terkumpul. Alat penampung ini biasanya berbentuk tabung yang mudah dicopot dari tabungnya. Prinsipnya bucket harus memenuhi syarat:

-  dapat dengan mudah dioperasikan dilaut

-  tidak menampung air terlalu banyak.

Dalam penelitian analisis kuantitatif (kelimpahan), diperlukan data  volume/ debit air yang tersaring melalui jaring, sehingga kelimpahan plankton dapat dihitung dengan satuan ekor per m3 air yang tersaring. Untuk pencatatan debit air, digunakan flowmeter dengan menggunakan rumus :

V= volume air tersaring (m3 )
V = R a p R= jumlah rotasi baling baling flowmeter
a= luas mulut jaring(m2)
p= panjang kolom air (m) yang ditempuh satu kali putaran

Konstruksi plankton net

  1. Cincin: terletak di atas dan berfungsi sebagai pengikat tali dan sebagai penarik plankton net. Cincin biasanya terbuat dari besi. Diameter cincin berbeda – beda tergantug dari merk dan jenis plankton net, namun pada umumnya diameter cincin ini yaitu 15 – 25cm.
  2. Tali: berfungsi untuk menghubungkan jaring dengan cincin. Panjang tali bervariasi tergantung jenis plankton net dan jenis plankton yang akan diambil, namun biasanya tali yang digunakan berukuran 25 – 50cm
  3. Kawat: digunakan untuk membentuk net atau mulut jaring sesuai keinginan dan kebutuhan kita. Diameter kawat biasanya 31cm untuk fitoplankton dan 45cm untuk zooplankton.
  4. Jaring: digunakan biasanya dari bahan nilon. Mesh size dari jaring ini biasanya 30 – 50 µm untuk fitoplankton dan 150-175 µm untuk zooplankton, panjang jaring sekitar 4-5 kali diameter mulut jaring.
  5. Botol/ bucket: berfungsi untuk menyimpan sampel air yang telah disaring oleh plankton net.
Berbagai ukuran mata jaring (Muller gauze) berdasarkan nomor dagang (Motoda 1957)
Nomor Jumlah Ukuran Rata- Nomor
Dagang Mata Jaring rata Panjang Dagang Tujuan Koleksi
Muler Gauze Per inch Mata Jaring Jepang
0000 18 1,364 mm GG 18
000 23 1,024 mm GG24
0 38 0,569 mm GG 40 Hydromedusa, Euphausiids, dll
3 58 0,333 mm GG 54 Copepoda, dll.
5 66 0,282 mm GG70 Copepoda, diatom, dll.
15 150 0,094 mm XX13 Diatom, dinoflagelata, dll
20 173 0,076 mm Mikrozooplakton
25 200 0,064 mm Mikrozooplakton
sumber: LIPI, 1997

Jenis-jenis Plankton Net

Metode Pengambilan Plankton

Metode pengambilan sampel menggunakan plankton net terbagi atas dua cara tergantung pada tujuan yang diiginkan, biasanya dibedakan atas :

  1. Sampling Secara Horizontal: Metoda pengambilan plankton secara horizontal ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran plankton horizontal.. Plankton net pada suatu titik di laut, ditarik kapal menuju ke titik lain, penganbilan sampel seiring pergerakan kapal secara perlahan (±2 knot), plankton net ditarik untuk jarak dan waktu tertentu (biasanya ± 5-8 menit). Jumlah air tersaring diperoleh dari angka pada flowmeter atau dengan mengalikan jarak diantara dua titik tersebut dengan diameter plankton net. Flowmeter untuk peningkatan ketelitian. Dengan cara horozontal sampel terbatas pada satu lapisan saja.
  2. Sampling Secara Vertikal: Merupakan cara termudah untuk mengambil sampel dari seluruh kolom air (coposite sample). Ketika kapal berhenti, plankton net diturunkan sampai ke kedalaman yang diinginkan dengan pemberat dibawahnya. Setelah itu plankton net ditariknya keatas dengan kecepatan konstan. Untuk mesh size halus digunakan kecepatan 0,5 m/detik untuk mata jaring kasar 1,0 m/detik.
  3. Sampling Secara Miring (Obelique): jaring diturunkan perlahan ketika kapal bergerak perlahan (±2 knot). Besar sudut kawat dengan garis vertikal ± 45˚, setelah mencapai kedalaman yang diinginkan plankton net ditarik secara perlahan dengan posisi sudut yang sama. Sampel yang didapat merupakan plankton yang terperangkap dari berbagai lapisan air. Kelemahan metode ini adalah waktu yang dibutuhkan relatif lama.

Pengawetan sampel

Setelah plankton dikeluarkan dari bucket segera diawetkan di botol yang mulutnya cukup luas. Bahan pengawet yang bukan untuk penelitian khusus biasanya menggunakan formalin 4% (sudah dinetralkan borax). Cairan tersebut merupakan campuran dari formalin teknis (formalin yang dijual dipasar berkadar 40%) dicampur dengan 9 bagfian ari yang mengandung sampel. Sedangkan untuk penelitian khusus, sampel didinginkan antara -10 sampai dengan -25˚C agar metabolisme tubuh plankton tidak berkerja. Untuk menghindari kekeliruan botol sampel perlu di tempelkan label bertuliskan:

-  Nomor stasiun

-  Tanggal dan waktu

-  Kedalaman

-  Nama kapal

-  Data lain yang dianggap perlu

Analisis Sampel Plankton

Empat kategori analisis plankton yang paling mudah dilakukan yaitu volume, berat basah, berat kering, dan pencacahan.

  1. Pengukuran volume(biomassa): dengan menentukan volume dengan tujuan mengetahui banyaknya plakton secara kuantitatif tanpa mengidentifikasi komposisinya (volume plankton per satuan volume air).
  2. Pengukuran berat basah dan berat kering: dengan cara menghilangkan air yang terdapat diantara plankton denfgan cara menyerap air dengan kertas filter atau pompa hisap. Penimbangan biasanya digunakan untuk menentukan berat zooplankton (bukan fitoplankton). Perhitungan berat basah digunakan timbangan dengan kepekaan tinggi. Berat kering didapatkan setelah sampel dioven pada suhu 50˚C selama 24 jam agar kadar airnya hilang dan beratnya stabil. Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan lemak plankton akan berubah menjadi senyawa organik terurai, hilang atau sebagainya.
BBS = berat plakton basah/ kering (mg/m3)
BBS = P1 – P2 P1 = berat sampel degan kertas filter (mg/m3)
VS P2 = berat filter tanpa sampel (mg/m3)
VS = volume air tersaring (m3)
  1. Penghitungan jumlah kelimpahan: cara umum yang dilakukan untuk mencacah sampel adalah dengan pengenceran sampel dan kemudian fraksi/ bagian dari sampel dihitung. Secara sederhana jumlah hasil cacahan dikalikan dengan jumlah fraksi.

Analisis Data dan Pengambila Kesipulan

Analisis data: setelah didapatkan hasil pencacahan dan ditabulasi, peneliti melakukan analisis dengan metode statistika. Dengan menentukan komunitas kondisi plankton disuatu perairan digunakan rumus:

1. Indeks diversitas: untuk mengetahui keragaman taksa biota perairan. Nilai indeks makin tinggi, berarti komunitas plakton di perairan tersebut semakin beragam dan tidak mendominasi. Indekd diversitas berdasarkan rumus Shanon & Weaver:

s
H = Pi  ln  Pi ; Pi = ni
1=1 N
H = indeks diversitas
ni = jumlah sel/ ekor dari taksa biota i
N = jumlah sel/ ekor dari taksa biota di dalam sampel
S = jumlah taksa biota dalam sampel

2. Indeks kemerataan: menunkukan pola sebaran plankton, nilai indeks yang relatif tinggi menandakan bahwa kandungan setiap takson tidak banyak berbeda. Rumus yang digunakan adalah Pielou:

J = H J = indeks kemerataan
ln    S H= indeks diversitas
S= jumla taksa biota dalam sampel

3. Indeks kekayaan: mengetahui banyak sedikitnya taksa serta konsentrasi biota dalam satu komunitas:

d = S – 1 d= indeks kekayaan taksa
ln  N S= jumlah taksa dalam satu sampel
N= jumlah sel/ekor dari taksa biota dalam satu sampel

Jika komunitas terdiri dari satu takson maka nilai indeksnya adalah nol.

Pengambilan kesimpulan: beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam mengambil kesimpulan adalah:

  1. Dilautan plankton tidak menyebar secara merata, baik horizontal maupun vertikal.
  2. Banyak plankton melakukan migrasi vertikal, yang menyebadkan perbedaan kepadatan antara pagi dan malam hari.
  3. Didekat pantai plankton sangan berfariasi terutama di sekitar estuari:
  4. Iklim indonesia yang bersifat tropik dengan perbedaan parameter lingkungan (suhu, salinitas, DO, zat hara) yang tidak telalu tajam menyebabkan pengambilan kesimpulan agak sukar.
  5. Kesimpulan sebaran plankton dan faktor lingkungan yang diamati secara bersamaan perlu memperhatikan kondisi cuaca, geografik, dan biologi pada saat sampling.

DAFTAR PUSTAKA

Kisaran Kelimpahan dan Koposisi Plakton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. 1997. Pusat pengembangan oseanilogi lembaga ilmu pengetahuan jakarta.

Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. Gramedia Jakarta

http://pangerancakeb.wordpress.com/education/planktology/

http://wwwscienceletter07.blogspot.com/2009/11/plankton.html

http://aquaculture-unri.blogspot.com/2009/02/planktonologi.html

http://er.jsc.nasa.gov/SEH/Ocean_Planet/activities/ts3meac3.pdf

http://www.bigelow.org/foodweb/satellite2.html

Sumber gambar:

Kisaran Kelimpahan dan Koposisi Plakton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. 1997. Pusat pengembangan oseanilogi lembaga ilmu pengetahuan jakarta.

http://www.kvestergaard.dk/kcdenmark/Products/Plankton_nets/Digital_flow_meter_with_back-run_stop/digital_flow_meter_with_back_run_stop. html

http://www.epa.gov/glnpo/image/vbig/equipment/plankton.jpg

http://el.erdc.usace.army.mil/zebra/zmis/zmishelp/plankton_nets.htm

http://er.jsc.nasa.gov/SEH/Ocean_Planet/activities/ts3meac3.pdf

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: